belajar dari Gajah - Daya Ingat

      Dr. Karen McComb dari University of Sussex, Inggris, merekam ”panggilan” bernada rendah gajah-gajah Afrika betina yang ada di Taman Nasional Amboseli, Kenya, dan memperhatikan
      gajah mana yang sering berjumpa dan mana yang tidak saling kenal.
      Ia kemudian memutar kembali rekaman panggilan itu pada 27 keluarga gajah untuk mempelajari respons mereka. Jika gajah-gajah itu mengenal baik si pemanggil, mereka akan segera menyahut.
      Jika mereka tidak begitu kenal si pemanggil, mereka mendengarkan tetapi tidak merespons, dan panggilan yang tidak dikenal membuat mereka gelisah dan defensif. Mereka dapat mengenali sedikitnya 14 keluarga gajah lain dari panggilannya, 
      yang memperlihatkan bahwa setiap gajah dapat mengingat sekitar 100 gajah dewasa lainnya.

      Para peneliti yang bekerja di Taman Nasional Amboseli, Kenya, mendapati bahwa salah satu kunci kelangsungan hidup suatu kawanan gajah adalah daya ingat gajah betina yang paling tua.
      Gajah-gajah tua ini, yakni gajah-gajah betina yang sedikitnya berusia 55 tahun, ternyata jauh lebih baik dalam membedakan kawan-kawannya dan gajah-gajah asing, dibandingkan dengan gajah yang berusia 35 tahun,” lapor Science News.

      Dengan mengingat apa yang disebut panggilan kontak, atau suara geraman berfrekuensi rendah, para gajah betina tua mengenali panggilan yang tidak dikenal dan mengumpulkan kelompoknya untuk berkerumun secara defensif. Laporan itu mengatakan bahwa ”gajah betina secara khusus mengenali sekitar 100 teman dari panggilan mereka”. Jadi, sewaktu seorang pemburu gelap membunuh seekor gajah betina tua, itu berarti hilanglah sudah gudang informasi yang luas bagi seluruh kawanan itu.

      John Partridge, kepala bagian mamalia di Kebun Binatang Bristol di Inggris mengatakan bahwa seekor gajah Asia yang ia rawat selama 18 tahun masih mengenalinya sewaktu ia kembali setelah tiga tahun lamanya tak berjumpa.